Selamat datang di Kawasan Penyair Aceh Terima kasih atas kunjungan Anda

Kamis, 03 Maret 2011

Faridah Roni


Faridah Roni, lahir di Takengon Aceh Tengah pada 30 Desember 1956. Menyelesaikan pendidikan di jurusan Fisika FKIP UNSYIAH Darussalam Banda Aceh dan Jurusan Pendidikan Elektronika Komunikasi FKIP Padang, kini sebagai seorang pendidik disalah satu SMK di Banda Aceh.
Puisinya di muat dalam Antologi puisi “Ziarah Ombak” (Lapena 2005) dan kumpulan puisi penyair perempuan Aceh “Lampion” (Lapena 2007).


LUKA

Engkau lelaki terkasih
Menabur cinta
Kepada bunga liar
Dipinggir jalan
Engkau terlena
Dalam balutan rona
Debu coklat tua

Banda Aceh, September 2007


PURNAMA KE 24
( Untuk : Is Sy, Is Hatens & Yasni M)

Dua puluh empat purnama
Berlalu pergi
Bayanganmu tak pernah sirna
Malam hampa sentakkan rindu
Sayat belati menikam dada
Mengoyak nurani yang terluka

Dalam diamku
Dalam sujudku
Dalam setiap desah nafasku
Kubisikkan namamu
Bidadari kecil belahan jiwaku

Manakala kutatap langit
Kutanyakan pada bintang
Pada bulan pada mentari
Adakah engkau melihat
Bidadari kecilku
Bermain ayun ditaman firdaus

Kulewati hari - hari dalam sepi
Kurajut rinduku dalam nurani
Ulurkan tanganmu bidadariku
Nantikan papa dipintu surga

Banda Aceh, Desember 2006


MALAM DI CHANGI

Lewat perjalanan panjang
Untuk bertemu denganmu
Negeri Sembilan, Malaka, Johor
Akhirnya aku sampai
Dipintu gerbangmu
Kerlingan tajam pengawalmu
Mengawasi gerak langkahku
Semilir sejuk angin senja
Mengantarkanku dalam pelukmu

Gemerlap cahayamu
Menyilaukan mataku
Saat kupu kupu malammu
Beterbangan menari
Diatas ranting ranting kering
Yang kerontang
Yang telah lupa makna cinta
Tak dapat lagi menyusun aksara
Hanya mencintai nikmatnya raga
Lupa membaca zikir dan doa
Karena nurani kehilangan cahaya
Mereka lupa
Nanti ketika menghadapMU
Tanpa membawa nikmatnya dunia

Singapore, Maret 2008


IBU

Dalam keremangan pagi
Engkau lalui jalan berliku penuh batu
Suara langkah kakimu yang terseret
Diantara dinginnya tetesan embun
Engkau rajut asa
Bagi kami putra putrimu

Ibu
Engkaulah rumah segala impian
Engkau nyalakan api pengharapan
Engkau pandu dalam kehidupan
Engkau besarkan kami dengan cintamu
Engkau elus kami dengan kasih sayangmu
Engkau hibur kami dengan ketulusanmu

Ibu
Engkau seperti senja dengan semilir angin
Ada kehangatan ada kedamaian
Cintamu bagai bianglala indah di cakrawala
Kasihmu bagai desah bayu di dedaunan
Rindu padamu selalu terasa namun tak teraba
Engkau akan selalu ada
Dalam hati dan cinta kami
Doa tulus selalu untukmu
Ibu

Banda Aceh, Mei 2007


SURAT TERAKHIR
( untuk : Rizka Wahyudi)

Kekasih
Ijinkan aku menangis untukmu
Untuk sebuah cinta
Yang pernah ada diantara kita
Melewati bilangan hari dan waktu

Kelokan digunung kerambil
Telah memisahkan dunia kita
Maut tiba-tiba datang menjemput
Engkau tak sempat lagi menarikan
tari guel dengan “ likak “

Ketika malam merapat
Rembulan mengintip malu disela daun
Ngilu terasa diruang dada
Bayangan wajahmu
Hampa, Beku, membisu
Aku terjaga dari mimpi-mimpi
Yang pernah kita lewati bersama

Diistana dunia fana
janji kita saling setia
Kini engkau telah tiada
Aku merajut helaian rinduku
Mengarungi angkasa biru
Selamat jalan kasihku. .

Banda Aceh, Oktober 2009

Tari guel : tari tradisional dari tanah gayo
khusus untuk laki-laki atau
penganten laki-laki
likak : sangat lincah

Tidak ada komentar: